Teori
Konstruktivisme
1. Latar Belakang :
Belajar merupakan
ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang. Belajar yang dilakukan
manusia merupakan bagian hidupnya dan berlangsung seumur hidup. Teori Konstruktivisme
memberikan keaktifan terhadap siswa untuk
belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain
yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Sehingga alasan saya memilih Teori Konstruktivisme
dalam proses pembelajaran karena :
1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa
belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri dan pengetahuan dibangun oleh
siswa sendiri.
2. Struktur pembalajaran seputar konsep
utama pentingnya sehingga dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan
pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3. Guru hanya membantu siswa untuk
mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk
menjadi pemikir yang mandiri.
5. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan
dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
Pemilihan
pendekatan Teori Konstruktivisme
lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan
yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di
kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada
benda-benda konkret.
Seorang guru perlu
memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran Jika tidak demikian, maka
seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat
memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk
meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses
mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi
itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam
mengkonstruksikan konsepsi tersebut biar lebih matang.
Dalam pelajaran ini siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa dan sebagai guru, siswa dapat dikatakan sebagai guru karena siswa diajar bagaimana siswa dapat berdiri di depan dan bagaimana siswa bisa berbagi pengetahuan yang siswa miliki kepada teman-temannya. Tujuan belajar secara bersama-sama mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keberhasilan siswa maka dari permasalahan tersebut, kita perlu memahami tentang hakikat teori belajar konstruktivisme ini. Teori belajar konstruktivisme bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
Dalam pelajaran ini siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa dan sebagai guru, siswa dapat dikatakan sebagai guru karena siswa diajar bagaimana siswa dapat berdiri di depan dan bagaimana siswa bisa berbagi pengetahuan yang siswa miliki kepada teman-temannya. Tujuan belajar secara bersama-sama mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keberhasilan siswa maka dari permasalahan tersebut, kita perlu memahami tentang hakikat teori belajar konstruktivisme ini. Teori belajar konstruktivisme bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
2. Tujuan Penulisan :
Setelah
membaca pokok pembahasan tentang Teori Konstruktivisme, maka diharapkan pembaca
:
1.
Mampu menyimpulkan pengertian
dari Teori
Konstruktivisme. C5
2.
Mampu menunjukkan nama-nama tokoh
dari Teori
Konstruktivisme. A3
3.
Mampu menunjukkan konsep dari teori-teori
Konstruktivisme.
P5
4.
Mampu menganalisis Teori Konstruktivisme.
C4
5. Mampu mengaitkan Teori Konstruktivisme ke dalam RPP
2013 dan melaksanakan dalam pengajaran. P4 dan P5
3. Pembahasan Teori Konstruktivisme
3.1.
Pengertian Teori Konstruktivisme.
Asal kata konstruktivisme adalah “to
construct” yang artinya membangun atau menyusun. Menurut Carin, bahwa teori
konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menenkankan bahwa para siswa
sebagai pembelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan,
tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual. Menurut Von
Glasersfeld, bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita
sendiri. Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu
berinteraksi dengan lingkungannya.
Teori
Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta
sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang
memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara
stimulus respon, kontruktivisme lebih
memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan
pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.
3.2.
Nama-nama Tokoh dan Teori Konstruktivisme.
Terdapat dua
tokoh penting yang mempelopori teori asas konstruktivisme ini yaitu Jean Piaget
dan Lev Vygotsky. Teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget dikenali sebagai
konstruktivisme psikologi atau individu atau kognitif, manakala teori yang
dipelopori oleh Lev Vygotskynialah konstruktivisme sosial.
3.2.1.
JEAN
PIAGET (1896-1980)
1.
Lahir
di Neuchâtel, Switzerland, pada 9 Ogos, 1896.
2. Bapaknya,Arthur Piaget, seorang
profesor dalam kesusateraan zaman pertengahan dan mempunyai minat yang mendalam
tentang sejarah.
3. Ibunya, Rebecca Jackson, seorang
yamg sangat pandai
4. Jean Piaget merupakan anak sulung
dalam keluarga dan bakatnya mulai dilihat ketika beumur 10 tahun.
5. Merupakan ahli psikologi switzerland
yang terkenal
6. Meninggal pada tahun 1980.
Teori belajar
konstruktivistik yang dikembangkan oleh Piaget dikenal dengan nama konstruktivistik
kognitif (personal constructivism). Teorinya berisi
konsep-konsep utama di bidang psikologi perkembangan dan berkenaan dengan pertumbuhan
intelegensi. Menurut Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih akurat
merepresentasikan dunia, dan mengerjakan operasi-operasi logis dari
representasi-representasi konsep realitas dunia. Teori ini memiliki fokus
perhatian pada bangkitnya dan dimilikinya skema-skema bagaimana seseorang
mengenal dunia dalam saat "tingkatan-tingkatan perkembangan", ketika
anak-anak menerima cara baru bagaimana secara mental merepresentasikan
informasi.
Teori
ini dianggap "konstruktivis", yang berarti bahwa, tidak seperti
teorinativis (yang berpendapat bahwa perkembangan kognitif sebagai perkembangan
dari pengetahuan dan kemampuan bawaan) ataupun teori empiris (yang berpendapat
bahwa perkembangan kognitif sebagai perolehan gradual dari pengetahuan melalui
pengalaman), teori ini berpendapat bahwa kita mengkonstruksi kemampuan kognitif
kita melalui kegiatan motivasi diri dalam dunia nyata.
Lebih jauh
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Dari pandangan Piaget tentang tahap
perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun
kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan
intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya dalah siswa harus memiliki
ketrampilan untuk menyesuaikan diri atau adaptasi secara tepat.
Ada empat konsep dasar yang diperkenalkan oleh Piaget,
yaitu:
1. Schemata (skema)
adalah kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu ketika
beradaptasi dengan lingkungan baru, konsep ini sendiri terbentuk dalam struktur
perkiraan (Intellectual Scheme) sehingga dengan intelektualnya itu manusia dapat
menata lingkungan barunya. Jadi schemata adalah suatu struktur kognitif yang
slalu berkembang dan berubah, karena proses asimiliasi dan proses akomodasi
aktif serta dinamis.
2. Asimilasi adalah
proses penyesuian informasi yang akan diterima sehingga menjadi sesuatu yang
dikenal oleh siswa, proses penyesuian yang dilakukan dalam asimilasi adalah
mengolah informasi yang akan diterima, sehingga memiliki kesamaan dengan apa
yang sudah ada dalam skema.
3. Akomodasi adalah
penempatan informasi yang sudah di ubah dalam skema yang sudah ada, untuk
penempatan tersebut skema perlu menyesuaikan diri.
4. Equilibrium
(keseimbangan) adalah sebuah proses adaptasi oleh individu terhadap
lingkungan individu, agar berusaha untuk mencapai struktural mental atau skema
yang stabil atau seimbang antara asimilasi dan akomodasi.
3.2.2. LEV VYGOTSKY (1896-1934)
1.
Lahir
pada 1896 di Belarus, Rusia.
2. Vygotsky
banyak terlibat dalalm mengkaji perkembangan kognitif di Institute of
Psychology di Moscow.
3.
Merupakan
ahli psikologi Rusia yang terkenal.
4.
Meninggal
pada 1934.
Teori belajar
Vygotsky menekankan pada sosiokultural dan pembelajaran. Siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial disekitarnya.
Pengetahuan, sikap, pemikiran, tata nilai yang dimilki siswa akan berkembang
melalui proses interaksi. konsep penting dalam teori Vygosky yaitu Zone
Of Proximal Development (ZPD) dan Scaffolding. Zone Of Proximal
Development adalah jarak antara perkembangan sesungguhnya dengan
tingkat perkembangan potensial dimana siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan
dibawah bimbingan orang dewasa. Sedangkan Scaffolding merupakan
pemberian kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi
bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang
makin besar setelah dapat melakukannya sendiri.
Kostrukstivisme
sosial Vygosky meyakini bahwa interaksi sosial, unsur budaya, dan aktivitas
yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu. Vygosky menekankan bahwa
semua mental tingkat tinggi seperti berpikir dan pemecahan masalah dimediasi
dengan alat-alat psikologis seperti bahasa, lambang dan simbol. Vigosky dalam
penelitiannya membedakan dua macam konsep yaitu konsep spontan dan konsep
ilmiah. Konsep spontan diperoleh dari pengetahuan sehari-hari, sedangkan konsep
ilmiah diperoleh dari pengetahuan dan pembelajaran yang diperoleh dari sekolah.
konsep ini saling berhubungan antara satu dengan yang lain.
Menurut
teori Vygosky untuk dapat menjelaskan bagaimana pengetahuan dibentuk, maka
dirangkum dalam dua penjelasan yang bertahap. Pertama, realitas dan kebenaran
dari dunia luar mengarahkan dan menentukan pengetahuan. Kedua, faktor
eksternal dan internal mengarahkan pembentukan pengetahuan yang tumbuh melalui
interaksi faktor-faktor esternal (kognitif) dan internal (lingkungan dan
sosial).
Dalam teori
Vygosky dalam belajar berarti terjadi proses perkembangan internal untuk
membentuk pengetahuan barunya dengan bantuan orang lain yang kompeten , dan hal
itu terjadi ketika individu berinteraksi dengan lingkungan dengan lingkungan
sosialnya. jadi kesiapan individu untuk belajar sangat bergantung pada stimulus lingkungan yang sesuai serta
bentuk bimbingan dari orang lain yang berkompeten secara tepat, sehingga
pembelajaran menjadi lebih bermakna dan terwujud perkembangan potensinya secara
tepat.
3.2.3. Teori Jhon Dewey dan Von Graselfeld.
Selain Piaget dan Vygosky tokoh
lain teori belajar kontruktivisme adalah Jhon Dewey dan Von Graselfeld. Dalam
hal ini seperti dikemukakan oleh Robert B. Innes (2004:1) bahwa “Constructivist
views of learning include a range of theories that share the general
perspective that knowledge is constructed by learners rather than transmitted
to learners. Most of these theories trace their philosophical roots to John
Dewey”. Maksudnya adalah bahwa pandangan penganut konstruktivisme
mengenai belajar meliputi serangkaian teori yang membagi perespektif umum bahwa
pengetahuan dikonstruksi oleh pembelajar bukan ditransfer ke pembelajar.
Kebanyakan dari teori seperti ini berakar dari filsafat Jhon Dewey.Dewey
menjelaskan bahwa manusia tidak selayaknya dibagi ke dalam dua bagian, satunya
emotional dan yang lainnya intelektual, yang satunya materi nyata, lainnya imajinatif.
4. Analisis Teori Konstruktivisme.
Pengertian belajar
menurut teori ini adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman
nyata dari lapangan yang bersifat kolektif dan kelompok. Artinya siswa akan
cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas
yang ada di lapangan atau pengalaman. Menurut Jean Piaget memiliki fokus
perhatian pada bangkitnya dan dimilikinya skema-skema bagaimana seseorang
mengenal dunia dalam saat "tingkatan-tingkatan perkembangan", ketika
anak-anak menerima cara baru bagaimana secara mental merepresentasikan
informasi yang baru dengan cara dibangun atas dasar realitas yang ada di
lapangan atau pengalaman.
Konstruktivisme
dapat dideskripsikan sebagai sebuah visi pembelajaran yang menyarankan agar
seorang siswa dapat membuat kesimpulan terhadap materi yang mereka pelajari,
daripada menerima langsung dari sumber lain (misalnya: orang lain atau media
bacaan). Definisi ini bisa kita artikan bahwa seorang siswa dapat mengkonstruksi
pengertiannya sendiri terhadap sesuatu hal, dikarenakan penalaran itu masuk
akal bagi mereka, karena lebih fokus kepada kesuksesan siswa dalam
mengorganisasikan pengalaman mereka. Siswa lebih diutamakan untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.
Proses pembelajaran siswa harus aktif melakukan kegiatan,
aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang
dipelajari. Guru dalam konteks ini berperan sebagai sumberdaya seluruh potensi
yang dimiliki siswa agar siswa mampu melaksanakan proses pembelajaran. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran menurut teori
konstruktivisme, seorang guru harus memiliki daya kreasi yang tinggi untuk bisa
mendesain suasana pembelajaran yang kondusif, Guru hanyalah
berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi yang
kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Kegiatan
pembelajaran cenderung menggunakan model pembelajaran kooperatif (kerjasama)
atau dalam bentuk kelompok. Dan mengenai pelaksanaan evaluasi menurut teori ini
tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam dalam memahami
materi dari guru. Evaluasi menjadi sarana untuk mengetahui kekurangan dan
kelebihan proses pembelajaran. Menurut Vygosky dalam belajar berarti terjadi
proses perkembangan internal untuk membentuk pengetahuan barunya dengan bantuan
orang lain yang kompeten , dan hal itu terjadi ketika individu berinteraksi
dengan lingkungan (alam) dan lingkungan sosialnya (seperti berkerjasama). Sehingga dalam proses pembelajaran bisa
memanfaatkan alam sekitar sebagai wahana tempat pembelajaran. Metode yang dapat
digunakan juga tidak harus selalu monoton, metode yang bervariasi merupakan
tuntutan mutlak dalam pembelajaran menurut teori ini.
Keterlibatan siswa
secara aktif dalam kegiatan pembelajaran amat dipentingkan karena hanya dengan
mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan
pengalaman dapat terjadi dengan baik. Selain itu, seorang guru juga harus mampu
memahami dan memperhatikan perbedaan individual anak, karena hal ini merupakan
faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran. Jadi,
diharapkan dalam belajar konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani
mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, kolaborasi dan pengelolaan diri.
5. Gambar
aplikasi teori pembelajaran konstruktivisme
sumber :
|
Gambar
diatas seperti menjelaskan dalam teori konstruktivisme bahwa siswa belajar dan
mengkonstruksi pengetahuannya dengan cara kerja kelompok, sehingga para siswa
dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, bekerja sama, mengkreatifkan
ide-ide baru dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya secara
mandiri tanpa dibimbing.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar