Minggu, 29 Juni 2014

Teori Konstruktivisme
1. Latar Belakang :
    Belajar merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang. Belajar yang dilakukan manusia merupakan bagian hidupnya dan berlangsung seumur hidup. Teori Konstruktivisme  memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Sehingga alasan saya memilih Teori Konstruktivisme dalam proses pembelajaran karena :
1.     Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri dan pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2.     Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sehingga dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3.     Guru hanya membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
4.     Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5.     Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

    Pemilihan pendekatan Teori Konstruktivisme lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret.
    Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruksikan konsepsi tersebut biar lebih matang.
    Dalam pelajaran ini siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa dan sebagai guru, siswa dapat dikatakan sebagai guru karena siswa diajar bagaimana siswa dapat berdiri di depan dan bagaimana siswa bisa berbagi pengetahuan yang siswa miliki kepada teman-temannya. Tujuan belajar secara bersama-sama mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keberhasilan siswa maka dari permasalahan tersebut, kita perlu memahami tentang hakikat teori belajar konstruktivisme ini. Teori belajar konstruktivisme bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
2. Tujuan Penulisan :
    Setelah membaca pokok pembahasan tentang Teori Konstruktivisme, maka diharapkan pembaca :
1.  Mampu menyimpulkan pengertian dari Teori Konstruktivisme. C5
2.  Mampu menunjukkan nama-nama tokoh dari Teori Konstruktivisme. A3
3.  Mampu menunjukkan konsep dari teori-teori Konstruktivisme. P5
4.  Mampu menganalisis Teori Konstruktivisme. C4
 5. Mampu mengaitkan Teori Konstruktivisme ke dalam RPP 2013 dan melaksanakan dalam pengajaran. P4 dan P5

3. Pembahasan Teori Konstruktivisme

3.1.         Pengertian Teori Konstruktivisme.
          Asal kata konstruktivisme adalah “to construct” yang artinya membangun atau menyusun. Menurut Carin, bahwa teori konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menenkankan bahwa para siswa sebagai pembelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual. Menurut Von Glasersfeld, bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu berinteraksi dengan lingkungannya.

          Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.

3.2.         Nama-nama Tokoh dan Teori Konstruktivisme.
          Terdapat dua tokoh penting yang mempelopori teori asas konstruktivisme ini yaitu Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget dikenali sebagai konstruktivisme psikologi atau individu atau kognitif, manakala teori yang dipelopori oleh Lev Vygotskynialah konstruktivisme sosial.

3.2.1.  JEAN PIAGET (1896-1980)


         1.     Lahir  di Neuchâtel, Switzerland, pada 9 Ogos, 1896.
2.    Bapaknya,Arthur Piaget, seorang profesor dalam kesusateraan zaman pertengahan dan mempunyai minat yang mendalam tentang sejarah.
3.     Ibunya, Rebecca Jackson, seorang yamg sangat pandai
4.  Jean Piaget merupakan anak sulung dalam keluarga dan bakatnya mulai dilihat ketika beumur 10 tahun.
5.     Merupakan ahli psikologi switzerland yang terkenal
6.     Meninggal pada tahun 1980. 

          Teori belajar konstruktivistik yang dikembangkan oleh Piaget dikenal dengan nama konstruktivistik kognitif (personal constructivism).  Teorinya berisi konsep-konsep utama di bidang psikologi perkembangan dan berkenaan dengan pertumbuhan intelegensi. Menurut Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih akurat merepresentasikan dunia, dan mengerjakan operasi-operasi logis dari representasi-representasi konsep realitas dunia. Teori ini memiliki fokus perhatian pada bangkitnya dan dimilikinya skema-skema bagaimana seseorang mengenal dunia dalam saat "tingkatan-tingkatan perkembangan", ketika anak-anak menerima cara baru bagaimana secara mental merepresentasikan informasi.
           Teori ini dianggap "konstruktivis", yang berarti bahwa, tidak seperti teorinativis (yang berpendapat bahwa perkembangan kognitif sebagai perkembangan dari pengetahuan dan kemampuan bawaan) ataupun teori empiris (yang berpendapat bahwa perkembangan kognitif sebagai perolehan gradual dari pengetahuan melalui pengalaman), teori ini berpendapat bahwa kita mengkonstruksi kemampuan kognitif kita melalui kegiatan motivasi diri dalam dunia nyata.
          Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya dalah siswa harus memiliki ketrampilan untuk menyesuaikan diri atau adaptasi secara tepat.
Ada empat konsep dasar yang diperkenalkan oleh Piaget, yaitu:
1.      Schemata (skema) adalah kumpulan konsep atau kategori  yang digunakan individu ketika beradaptasi dengan lingkungan baru, konsep ini sendiri terbentuk dalam struktur perkiraan (Intellectual Scheme) sehingga dengan intelektualnya itu manusia dapat menata lingkungan barunya. Jadi schemata adalah suatu struktur kognitif yang slalu berkembang dan berubah, karena proses asimiliasi dan proses akomodasi aktif serta dinamis.
2.      Asimilasi adalah proses penyesuian informasi yang akan diterima sehingga menjadi sesuatu yang dikenal oleh siswa, proses penyesuian yang dilakukan dalam asimilasi adalah mengolah informasi yang akan diterima, sehingga memiliki kesamaan dengan apa yang sudah ada  dalam skema.
3.      Akomodasi adalah penempatan informasi yang sudah di ubah dalam skema yang sudah ada, untuk penempatan tersebut skema perlu menyesuaikan diri.
4.      Equilibrium (keseimbangan) adalah sebuah proses adaptasi oleh individu terhadap lingkungan individu, agar berusaha untuk mencapai struktural mental atau skema yang stabil atau seimbang antara asimilasi dan akomodasi.

3.2.2. LEV VYGOTSKY (1896-1934)


1.       Lahir pada 1896 di Belarus, Rusia.
2.     Vygotsky banyak terlibat dalalm mengkaji perkembangan kognitif di Institute of Psychology di Moscow.
3.       Merupakan ahli psikologi Rusia yang terkenal.
4.       Meninggal pada 1934.

          Teori belajar Vygotsky menekankan pada sosiokultural dan pembelajaran. Siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial disekitarnya. Pengetahuan, sikap, pemikiran, tata nilai yang dimilki siswa akan berkembang melalui proses interaksi. konsep penting dalam teori Vygosky yaitu Zone Of Proximal Development (ZPD) dan Scaffolding. Zone Of Proximal Development adalah jarak antara perkembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan potensial dimana siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dibawah bimbingan orang dewasa. Sedangkan Scaffolding merupakan pemberian kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang makin besar setelah dapat melakukannya sendiri.
          Kostrukstivisme sosial Vygosky meyakini bahwa interaksi sosial, unsur budaya, dan aktivitas yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu. Vygosky menekankan bahwa semua mental tingkat tinggi seperti berpikir dan pemecahan masalah dimediasi dengan alat-alat psikologis seperti bahasa, lambang dan simbol. Vigosky dalam penelitiannya membedakan dua macam konsep yaitu konsep spontan dan konsep ilmiah. Konsep spontan diperoleh dari pengetahuan sehari-hari, sedangkan konsep ilmiah diperoleh dari pengetahuan dan pembelajaran yang diperoleh dari sekolah. konsep ini saling berhubungan antara satu dengan yang lain.
   Menurut teori Vygosky untuk dapat menjelaskan bagaimana pengetahuan dibentuk, maka dirangkum dalam dua penjelasan yang bertahap. Pertama, realitas dan kebenaran dari dunia luar mengarahkan dan menentukan pengetahuan.  Kedua, faktor eksternal dan internal mengarahkan pembentukan pengetahuan yang tumbuh melalui interaksi faktor-faktor esternal (kognitif) dan internal (lingkungan dan sosial).
    Dalam teori Vygosky dalam belajar berarti terjadi proses perkembangan internal untuk membentuk pengetahuan barunya dengan bantuan orang lain yang kompeten , dan hal itu terjadi ketika individu berinteraksi dengan lingkungan dengan lingkungan sosialnya. jadi kesiapan individu untuk belajar sangat bergantung  pada stimulus lingkungan yang sesuai serta bentuk bimbingan dari orang lain yang berkompeten secara tepat, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan terwujud perkembangan potensinya secara tepat.

3.2.3.  Teori Jhon Dewey dan Von Graselfeld.

          Selain Piaget dan Vygosky tokoh lain teori belajar kontruktivisme adalah Jhon Dewey dan Von Graselfeld. Dalam hal ini seperti dikemukakan oleh Robert B. Innes (2004:1) bahwa “Constructivist views of learning include a range of theories that share the general perspective that knowledge is constructed by learners rather than transmitted to learners. Most of these theories trace their philosophical roots to John Dewey”. Maksudnya adalah bahwa pandangan penganut konstruktivisme mengenai belajar meliputi serangkaian teori yang membagi perespektif umum bahwa pengetahuan dikonstruksi oleh pembelajar bukan ditransfer ke pembelajar. Kebanyakan dari teori seperti ini berakar dari filsafat Jhon Dewey.Dewey menjelaskan bahwa manusia tidak selayaknya dibagi ke dalam dua bagian, satunya emotional dan yang lainnya intelektual, yang satunya materi nyata, lainnya imajinatif.

4. Analisis Teori Konstruktivisme.
    Pengertian belajar menurut teori ini adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan yang bersifat kolektif dan kelompok. Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada di lapangan atau pengalaman. Menurut Jean Piaget memiliki fokus perhatian pada bangkitnya dan dimilikinya skema-skema bagaimana seseorang mengenal dunia dalam saat "tingkatan-tingkatan perkembangan", ketika anak-anak menerima cara baru bagaimana secara mental merepresentasikan informasi yang baru dengan cara dibangun atas dasar realitas yang ada di lapangan atau pengalaman.
Konstruktivisme dapat dideskripsikan sebagai sebuah visi pembelajaran yang menyarankan agar seorang siswa dapat membuat kesimpulan terhadap materi yang mereka pelajari, daripada menerima langsung dari sumber lain (misalnya: orang lain atau media bacaan). Definisi ini bisa kita artikan bahwa seorang siswa dapat mengkonstruksi pengertiannya sendiri terhadap sesuatu hal, dikarenakan penalaran itu masuk akal bagi mereka, karena lebih fokus kepada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.
     Proses pembelajaran siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru dalam konteks ini berperan sebagai sumberdaya seluruh potensi yang dimiliki siswa agar siswa mampu melaksanakan proses pembelajaran. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran menurut teori konstruktivisme, seorang guru harus memiliki daya kreasi yang tinggi untuk bisa mendesain suasana pembelajaran yang kondusif, Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
    Kegiatan pembelajaran cenderung menggunakan model pembelajaran kooperatif (kerjasama) atau dalam bentuk kelompok. Dan mengenai pelaksanaan evaluasi menurut teori ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam dalam memahami materi dari guru. Evaluasi menjadi sarana untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran. Menurut Vygosky dalam belajar berarti terjadi proses perkembangan internal untuk membentuk pengetahuan barunya dengan bantuan orang lain yang kompeten , dan hal itu terjadi ketika individu berinteraksi dengan lingkungan (alam) dan lingkungan sosialnya (seperti berkerjasama).  Sehingga dalam proses pembelajaran bisa memanfaatkan alam sekitar sebagai wahana tempat pembelajaran. Metode yang dapat digunakan juga tidak harus selalu monoton, metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam pembelajaran menurut teori ini.
    Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran amat dipentingkan karena hanya dengan mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Selain itu, seorang guru juga harus mampu memahami dan memperhatikan perbedaan individual anak, karena hal ini merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran. Jadi, diharapkan dalam belajar konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, kolaborasi dan pengelolaan diri.

5. Gambar aplikasi teori pembelajaran konstruktivisme



    Gambar diatas seperti menjelaskan dalam teori konstruktivisme bahwa siswa belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya dengan cara kerja kelompok, sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, bekerja sama, mengkreatifkan ide-ide baru dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya secara mandiri tanpa dibimbing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar