Sabtu, 19 April 2014

PERKEMBANGAN KOGNITIF


PERKEMBANGAN KOGNITIF

Tujuan : Setelah membaca pokok pembahasan tentang perkembangan kognitif maka diharapkan pembaca :
1. Mampu menjelaskan pengertian kognitif.
2. Mampu menjelaskan perkembangan kognitif.
3. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dasar perkembangan manusia.
4. Mampu menjelaskan Teori Piaget tentang perkembangan kognitif.
5. Mampu menjelaskan Ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan perkembangan kognitif.
6. Mampu menerapkan ke dalam RPP dan pelaksanaan dalam pengajaran dikelas.

1. Pengertian Kognitif
Pengertian kognitif secara etimologi, kognitif atau kognisi berasal dari bahasa latin ‘cognoscere’ yang artinya mengetahui. Kognisi dapat diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan utuk memperoleh pengetahuan.
Pengertian kognitif secara terminologi, kognitif adalah gejala bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan atau untuk menggunakan pengetahuan.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif  merupakan perinsip-perinsip umum perkembangan dan kemudian berfokus pada perubahan-perubahan dalam pemikiran dan penalaran. Perkembangan kognitif pada anak dapat dibedakan menjadi 2 :
a.Anak-anak ( usia Sekolah Dasar)
Pada anak sekitar usia Sekolah Dasar, aktivitas mental anak terfokus pada objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Ini bararti bahwa anak usia sekolah dasar sudah memiliki kemampuan berpikir melalui urutan sebab-akibat.
Dalam memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indranya, karena mereka mulai memiliki kemamapuan untuk membedakan apa yamg tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya. Menurut Piaget, anak pada masa ini telah mampu menyadari konservasi (kemampuan anak untuk berhubungan dengan aspek yang berbeda), karena anak telah mengembangkan tiga macam proses, yaitu : Negasi (Negation), Hubungan timbal balik (Resipsokasi), dan Identitas.
b. Remaja (SMP dan SMA)
Secara umum, karakteristik perkembangan usia remaja ditandai dengan kemampuan berpikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan  sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak. Remaja dapat mangintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi, bukan hanya apa yang terjadi.
3. Prinsip-prinsip  Dasar Perkembangan Manusia
Prinsip umum yang tampaknya berlaku untuk setiap ranah perkembangan adalah (Ellis,2008):
a. Urutan perkembangan sedikit banyak dapat diramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggak perkembangan perilaku-perilaku baru yang semakin kompeks seiring meningkatnya tahap perkembangan yang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan.
Contoh: Anak-anak lazimnya mulai belajar berjalan hanya setelah meraka mampu berdiri dan merangkak.
b. Anak-anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda.
Penentuan perkiraan usia saat anak mampu melakukan perilaku tertentu atau berpikir dengan cara tertentu memungkinkan kita membuat ramalan umum mengenai kemampuan-kemampuan anak pada tingkat usia tertentu.
Contoh: Anak pada umumnya dapat menggambar bujur sangkar dan bentuk-bentuk segitiga pada usia tiga tahun.
c. Perkembangan itu terkadang terjadi dengan cepat, terkadang juga lambat.
            Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu pertumbuhan yang relatif cepat (spurt) dapat diselingi dengan pertumbuhan yang lambat (plateau).
            Contoh: Anak-anak ungkin berbicara dengan kosakata yang terbatas dan “kalimat-kalimat” satu kata selama beberapa bulan, namun pada usia sekitar dua tahun, terkadang muncul “ledakan” penggunaan bahasa.
d. Faktor hereditas (keturunan), dalam batas-batas tertentu, mempengaruhi perkembangan.
Hampir semua aspek perkembangan seorang anak dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung oleh susunan genetis anak yang bersangkutan. Meski demikian, tidak semua karakteristik turunan tersebut tampak pada waktu kelahiran.hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang proses kematangan (maturation),yakni mulai berkembangnya perubahan-perubahan yang dikontrol secara genetis ketika anak berkembang.
Contoh: Keterampailan-keterampilan motorik seperti berjalan,berlari dan meloncat.
e. Faktor-faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
            Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi karakteristik- karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas.
            Contoh: Sekalipun tinggi badan dan bentuk tubuh merupakan karakteristik yang diwariskan, kadar gizi dalam makanan yang disantap anak akan mempengaruhi tinggi dan bentuk tubuh spesifik yang akhirnya dicapai si anak.
f. Sebagian besar pembelajara kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan sinapsis.
            Secara spesifik, pembelajaran seringkali melibatkan penguatan sinapsis yang telah ada atau pembentukan sinapsis baru. Dalam sejumlah kasus, kemajuan belajar justru melibatkan pemusnahan sinapsis. Pembelajaran yang efektif mengharuskan seseorang tidak hanya memikirkan dan melakukan hal-hal tertentu, namun juga tidak memikirkan dan melakukan hal –hal yang lain, dengan kata lain orang yang bersangkutan menghambat kecenderungan untuk berpikir atau berperilaku dalam cara-cara tertentu.
g. Perubahan-perubahan  perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses berpikir yang semakin kompleks dan efesien.
            Para ahli bersepkulasi bahwa melalui produksi sinapsis secara besar-besaran pada masa-masa awal kehidupan, anak-anak memiliki potensi untuk beradaptasi diberbagai kondisi dan situasi. Saat mereka menjumpai pengalaman yang berbeda-beda, sejumlah sinapsis menjadi sangat berguna dan digunakan berulang-ulang.Sinapsis-sinapsis lain cenderung tidak berguna dan akhirnya memudar dalam suatu proses yang disebut pemangkasan sinaptik. Pemangkasan sinaptik adalah sebuah hal yang baik Karena melenyapkan sinaptik ‘pengganggu” yang tidak konsisten dengan peristiwa-pweristiwa dan pola-pola perilaku yang lazim terjadi.
h. Banyak bagian otak bekerja sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses berpikir dan berperilaku yang rumit.
            Dalam batas-batas tertentu , belahan otak kiri dan kanan atau hemissssfer, dikorteks memiliki fungsi yang khas yang berbeda. Pada sebagian besar orang mungkin (80%) orang, hemisfer kiri berperan penting dalam bahasa dan pemikiran logis, sedangkan hemisfer kananlebih dominan dalam tugas-tugas visualdan spasial.
i. Otak tetap mampu beradaptasi seumur hidup manusia.
            Berdasarkan sudut pandang fisiologis, kemampuan otak untuk beradaptasi  terhadap perubahan keadaan dengan kata lain , kemampuan otak untuk belajar berlanjut sepanjang rentang hidup manusia. Masa tahun-tahun awal memang merupakan  masa-masa penting  bagi perkembangan, namun tak kalah pentingnya adalah masa-masa sesudahnya. Tidak ada satupun waktu “terbaik” atau satu-satunya waktu” untuk mempelajari sebagian topic dan keterampilan.
4. Teori Piaget tentang Perkembangan Kognitif.
Asumsi-asumsi dasar Piaget (Ellis,2008):
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa.
a. Anak-anak adalah pembelajaran yang aktif dan termotivasi.
Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki keterkaitan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut.
Contoh: anak-anak terus menerus bereksperimen dengan objek-objek yang mereka jumpai.
b. Anak-anak mengkonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang telah mereka pelajari menjadi suatu koleksi fakta-fakta yang terisolasi. Mereka menggabungkan pengalaman-pengalaman mereka menjadi suatu pandanagan terintegrasi mengenai cara kerja dunia disekitar mereka.
Contoh: Melalui pengamatan bahwa makanan, mainan, dan objek-objek lain selalu jatuh kebawah (tidak pernah keatas) ketika dijatuhkan , anak-anak mulai membentuk pemahaman dasar mengenai gravitasi.
c. Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi, asimilasi dan akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif terjadi sebagai hasil dua proses yang komplementer (yang saling melengkapi) yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses merespon suatu peristiwa baru secara konsisten denagan rancangan yang telah dimiliki.
Contoh: seorang bayi yang suka memasukkan suatu benda atau mainannya ke dalam mulutnya.
Akomodasi adalah proses merespons suatu peristiwa baru dengan memodifikasi suatu rancangan yang telah ada atau dengan membentuk suatu rancangan baru.
Contoh: seorang bayi harus membuka mulutnya lebih lebar dari biasanya untuk memasukkan suatu benda atau mainannya ke dalam mulutnya yang lebih besar.
d. Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan social adalah factor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif.
Dalam pandangan piaget, interaksi sosial juga sama pentingnya bagi perkembangan kognitif. Melalui interaksi dengan orang lain yang menyenangkan (seperti percakapan) maupun yang tidak menyenangkan (seperti pertengkaran). Anak-anak yang masih belia secara bertahap menyadari bahwa individu-individu yang berbeda akan memandang hal-hal  yang berbeda dan pandangan-pandngan mereka tentang dunia belum tentu akurat atau logis.
e. Proses ekuilibrasi mendorong kemajuan kearah kemampuan berpikir yang semakin kompleks.
Ekuilibrasi adalah pergerakkan ekuilibrium ke dissekuilibrium dan kembali lagi ke ekuilibrium , yaitu suatu proses yang mendorong perkembangan pikiran dan pemahaman yang semakin kompleks.
Ekuilibrium adalah proses dimana seorang individu mampu merespon peristiwa-peristiwa baru berdasarkan skema yang sudah ada.
Disekuilibrium proses dimana seorang individu tidak mampu merespon peristiwa-peristiwa baru berdasarkan skema yang sudah ada, pada umumnya disertai ketidaknyamanan mental.
Skema adalah kelompok tindakkan tau pikiran yang serupa dan terorganisasi, yang digunaka secara berulang dalam rangka merespons lingkungan.
Contohnya: seorang anak yang berusia 4 tahun yang diberikan pertanyaan dan dapat menjawabnya. Dikatakan anak tersebut sedang mengalami kondisi ekuilibrium.
f. Sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan diotak, anak-anak berpikir dengan cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget telah berspekulasi bahwa otak memang berubah secara signifikan dan perubahan-perubahn tersebut memungkinkan terjadinya proses-proses berpikir yang semakin kompleks. Sebagaiman telah kita ketahui, faktanya otak memang terus berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja, namun belum jelas apakah perubahan-perubahan tersebut secara spesifik berkaitan dengan perubahan-perubahan kognitif yang dijabarkan piaget.
5. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget (Ellis,2008):
Seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Pieget mengklasifikasikan perkembangan kognnitif anak menjadi 4 tahap (Solso, 2007). antara lain,:
a. Tahapan Sensorimotor
Anak sejak lahir sampai usia sekitar satu dan dua tahun memahami objek di sekitarnya melalui sensori dan aktivitas motor atau gerakannya. Karena bulan-bulan pertama anak belum mampu bergerak dalam ruangan, ia lebih mendapatkan pengalaman dari tubuh dan inderanya sendiri dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi atas rangsang-rangsang yang diterimanya dalam bentuk refleks (misalnya refleks mengenyot puting susu ibu, refleks menangis, dan lain-lain). Refleks-refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih misalnya berjalan, anak-anak belajar mengenali tangannya dengan menjabat tangan dan menghisapnya, kemudian mereka belajar mengenali benda dengan mengikuti atau menendangnya.
b. Tahap Praoperasional
Masa ini berlangsung antara (2-7 tahun). Proses berfikir anak berpusat pada penguasaan-penguasaan simbolik (misalnya, kata-kata) yang mampu mengungkapkan pengalaman masa lalu. Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti : kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan (tingkah laku yang tampak). Hal lain yang perlu diutarakan sehubungan dengan penggunaan skema kognitif anak yang masih terbatas, itu ialah bahwa pengamatan dan pemahaman anak terhadap situasi lingkungan yang ia tanggapi saat dipengaruhi oleh watak egosentrism. Maksudnya anak tersebut belum bisa memahami pandangan orang lain yang berbeda dengan pandangannya sendiri. Anak masih belum menerima pandangan orang lain.
c. Tahap Operasional Kongkrit
Masa ini berlangsung antara (7-11 tahun). Pada tahapan ini anak mulai mampu mengatasi masalah yang berkaitan dengan conservasi perceptual contration dan egocentrism namun masih dalam masalah yang bersifat kongkrit, belum yang bersifat abstrak.
d. Tahap Operasional Formal
Masa ini berlangsung (11 tahun dan lebih). Dapat berfikir secara logis tentang masalah abstrak dan menguji hipotesis secara sistematis.

Dari pendapat Piaget di atas dapat penulis simpulkan, bahwa kognitif dari usia 0-2 tahun anak memahami objek disekitarnya melalui sensori dan aktivitas motornya. Dan usia 2-7 tahun belajar menggunakan bahasa, pemikiran masih egosentrism, masih mengalami kesulitan dalam memandang dari sudut pandang orang lain. Dan usia 7-11 tahun dapat berfikir dengan logis tentang objek dan peristiwa, serta usia 11 dan selebihnya dapat berpikir secara logis dan abstrak.
6. Ayat Al-Qur’an yang Berhubungan dengan Perkembangan Kognitif.
Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi berupa pikiran dan akal yang hanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan Allah yang paling baik. Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan pikiran dan akalnya dengan sebaik-baiknya. Perkataan ini terdapat di Alquran surat An-Nahl ayat 11-12.

Artinya : “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Qs. An-Nahl;16 : 11).
   
Artinya : “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-Nya.” (Qs. An-Nahl;16 : 12).

Kedua ayat tersebut menegaskan kekuasaan Allah, memperjelas pada manusia bahwa kenyataan-kenyataan empiris dalam alam ini seharusnya menjadi sarananya untuk manusia memanfaatkan dan menggunakan fikir dan akalnya, sehingga terlatih daya fikirnya, dan dengan demikian mampu membina  ilmu pengetahuan. Ayat-ayat Allah adalah kenyataan-kenyataan alami yang berlangsung menurut sunnahnya dan ayat-ayat ini berfungsi dalam melatih dan mengembangkan kemampuan berfikir manusia, dan lebih lanjut akan mampu mengembangkan teori dan ilmu pengetahuan.

7. Contoh Rencana Program Pembelajaran pada perkembangan kognitif:

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN
(RPP)

SatuanPendidikan       : MAN 11 JAKARTA
Mata Pelajaran            : FISIKA
Kelas                           : X.IPA-2
Umur                           : 16tahun
Tahapan                       : OPERASIONAL FORMAL
MateriPokok               : USAHA
AlokasiWaktu             : 3x2 JP

Tujuan           :
1. Kognitif :
1.1.Siswa mampu menunjukkan pada saat seperti apa Usaha=Gayaxperpindahan dapat dikatakan sebagai Usaha.
            1.2. Siswa mampu membuat grafik hubungan antara gaya terhadap perpindahan.
2. Afektif :
2.1.Siswa mampu menunjukkan contoh Usaha=GayaxPerpindahan dalam kehidupan sehari-hari.
2.2.siswa mampu memodifikasikan grafik hubungan antara gaya terhadap perpindahan.
3. Psikomotorik :
3.1.Siswa mampu mempraktekkan contoh Usaha=GayaxPerpindahan dalam kehidupan sehari-hari.
3.2.Siswa mampu mengerjakan soal grafik hubungan antara gaya terhadap perpindahan.

Ellis, Jeanne O., Psikologi Pendidikan. Jakarta : Erlangga, 2008
Anonim. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif.http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/self-publishing/2267897-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-kognitif. Diakses pada 18 April 2014.